Soul of Hadi

Selamat datang di Diary onlineku. Terus terang blog ini lahir tanpa konsep.. Ke depan, moga-moga bisa lebih baik. Yang jelas blog ini saya hadiahkan buat istriku tersayang Juhartati dan anak-anakku Raihan dan Nuha, dan tentu saja Kamyu-Kamyu semua :-) enjoy... help your self, bantu saya menemukan diri. thanks

Search in the Quran
Search in the Quran:
in
Download Islamic Softwares FREE | Free Code
Powered by www.SearchTruth.com

Friday, May 12, 2006

Belajar sebagai habit

Belajar sebagai habit. Selama ini belajar selalu dianggap kegiatan membosankan.
Kita belajar karena sekolah memaksa untuk itu. Banyak cara, entah lewat PR entah lewat ujian. Yang jelas wajar jika belajar menjadi kegiatan yang tidak menyenangkan. Dan image sebagian besar orang kepada student yang rajin belajar agak miring "kutu buku"..."kurang gaul".... "terlalu serius".

Manusia tidak dapat dilepaskan dari kegiatan belajar. Sadar atau tidak, proses pembelajaran atau learning menjadi suatu kebutuhan hidup yang tak terpisahkan. Mekanisasi pendidikanlah yang menyebabkan pemisahan antara pelajar dan putus sekolah. Antara anak rajin sama pembolos, antara si pintar dan si pandir. Padahal mereka pada dasarnya sama-sama belajar disebuah ruang universitas kehidupan.

Formalisasi proses pendidikan menghasilkan proses pengajaran berbagai ilmu kepada students dengan kuantitas yang membanggakan. Namun disisi lain telah menimbulkan ketergantungan masyarakat atas institusi ini. Disisi lain pula telah berhasil mempengaruhi pranata sosial masyarakat tentang budaya belajar, profesi, apresiasi, gelar akademis dan banyak lagi.

Saya ingin membandingkan dengan capaian para cendekiawan yang hidup sebelum metode pendidikan dikenal. Menurut hemat saya, nama-nama seperti Syekh Imam Syafii (pendiri mahzab Syafii) seorang scholar yang luar biasa. Bagaimana tidak dalam usia relatif muda (6-7 tahun?) beliau telah menghafal Al Quran, dan telah dikenal berguru dari satu ulama ke ulama lainnya. Al hasil pada usia muda beliau sudah menjadi ahli fiqh yang menjadi rujukan. Apa rahasianya ? kesadaran akan nilai ilmu dan habit.

Newton, bukanlah anak yang dianggap berhasil disekolahnya. Bukan pula anak yang disukai karena status sosialnya. Dia dianggap anak aneh mulai masa kecilnya sampai pada saat usia universitas. Jika menurutkan standard belajar formal, seharusnya beliau bukanlah sarjana yang begitu dikenal seperti sekarang. Tidak sedikit teori-teori fisika-matematik yang berhasil ia kembangkan dan mengilhami penemuan-penemuan berikutnya. Katakanlah teori gravitasi. Yang menarik, ternyata pemikiran besar dibelakang teori gravitasi ini berlangsung sejak beliau masih diusia belia ketika memikirkan apel jatuh. Kemudian dia mencoba membuat percobaan-percobaan kecil seperti melompat-lompat dan mengukurnya...begitu seterusnya, Newton gandrung dengan percobaan-percobaan kecilnya di alam. Sampai mahasiswa riset terus beliau lakukan. Pengetahuannya yang kelewat maju, menyebabkan konflik batin dengan sistem pendidikan yang ada. Meskipun penolakan terhadap hasil riset beliau tidak diterima. Akhirnya sebuah karya besar tak terbendung dan lahir. Alhasil sebuah ironi penghargaan yang tidak beliau terima saat hidupnya, jazad-nya menerima kehormatan dan namanya harum di dunia.

Belajar sebagai habit. Apakah ini jawaban atas fenomena Syafii dan Newton??

wassalaam
hadi

0 Comments:

Post a Comment

<< Home