Soul of Hadi

Selamat datang di Diary onlineku. Terus terang blog ini lahir tanpa konsep.. Ke depan, moga-moga bisa lebih baik. Yang jelas blog ini saya hadiahkan buat istriku tersayang Juhartati dan anak-anakku Raihan dan Nuha, dan tentu saja Kamyu-Kamyu semua :-) enjoy... help your self, bantu saya menemukan diri. thanks

Search in the Quran
Search in the Quran:
in
Download Islamic Softwares FREE | Free Code
Powered by www.SearchTruth.com

Wednesday, February 15, 2006

Peran Laki-laki dalam pemberdayaan wanita ??

TO WHAT EXTENT ARE MEN NECESSARY FOR THE EMPOWERMENT OF WOMEN???

Pertanyaan ini muncul dari salah seorang sahabat jauh di Glasgow ? serius banget yaah..
Saya jadi ingat sebuah diskusi atau pembelajaran yang disampaikan Pak Muhammad Zuhri dalam sebuah kajian filsafat kehidupan beberapa tahun lalu. Tentu saja untuk menjawab pertanyaan ini, saya sulit berlepas diri dari prinsip-prinsip hidup atau belief yang saya percayai yaitu Islam. Konsekuensinya mudah sekali konflik atau berbeda dengan belief orang lain dengan agama dan culture yang berbeda.

Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Tentu ada maksud-nya. Yang paling mudah dilihat adalah misi melangsungkan keturunan alias regenerasi. Karenanya laki-laki dan perempuan diciptakan sedemikian rupa sehingga mempunyai perbedaan biologis, fisiologis dan mungkin psikologis. Perbedaan biologis dan fisiologis secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi aspek psikologis. Menstruasi pada wanita menyebabkan wanita lebih sensitive pada masa-masa tertentu. Begitu juga laki-laki kekuatan fisik yang ia punyai mempunyai kecenderungan untuk show-off atau dominasi minimal atas kepemilikannya atau wilayahnya, keinginannya dan sebagainya. Dalam beberapa hal, walaupun tidak selamanya benar, kenyataan biologis-fisiologis mempengaruhi psikologis, cara padang dan cara hidup. Karenanya laki-laki dan wanita bias menyikapi suatu masalah yang sama dengan pendekatan yang berbeda. Misalnya dalam mendekorasi kamar, wanita lebih siap untuk memperhatikan estetika, detail-detail ruang, warna, tata letak, confortability. Sementara laki-laki mungkin hanya memperhatikan aspek kemudahan akses, fungsi dan lain sebagainya. Ketika laki-laki dan wanita hadir bersama-sama, tentu saja akan didapatkan desain ruang yang bias memadukan dua aspek diatas. Keseimbangan, itulah maksud Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan.

Sepanjang contex pemberdayaan adalah untuk menjaga keseimbangan baik dalam keluarga, masyarakat, ataupun dunia, banyak hal yang bisa dilakukan laki-laki maupun wanita. Sebelum melakukan pemberdayaan atas gender yang lain, tentu saja masing-masing harus sadar potensi diri masing-masing. Karunia biologis dan psikologis masing-masing. Setelah itu masing-masing perlu mengerti karunia biologis dan psikologis lain gender. Awal mula keseimbangan adalah pengertian atas hal-hal yang mau diseimbangkan. Karena dua hal inilah yang sangat-sangat berbeda dari seorang perempuan dan laki-laki. Sementara menurut saya, potensi kecerdasan (IQ) laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan mendasar. Potensi intelegensia bias membuat laki-laki dan wanita saling berlomba disemua aspek kehidupan. Ada pilihan satu pihak mengalahkan satu sama lain untuk membuktikan siapa yang lebih berhak mewarisi dunia ini. Tentu saja selalu ada pilihan lain.. bahwa wanita dan laki-laki bias berjalan seiring dalam contex keseimbangan. Inilah yang ingin saya bawa.

Untuk membicarakan peran laki-laki atas pemberdayaan wanita. Saya agak miris. Karena secara kemampuan akal, wanita pasti dapat memberdayakan dirinya sendiri. Namun jika Anda setuju bahwa wanita diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan tertentu, marilah kita lihat wanita (dan laki-laki) sebagai makhluk yang utuh biologis, psikologis dan akal. Asumsi lainnya adalah, marilah kita berasumsi dengan jumlah wanita yang besar didunia ini… dan kenyataan sebagian besar dari mereka masih mengalami tekanan-tekanan budaya disatu sisi (aspek cultural atau male domination) atau ketertinggalan kesempatan pendidikan disisi lain, bolehlah kita mengatakan memang laki-laki bisa berperan banyak dalam pemberdayaan wanita.

Pertama laki-laki sangat berperan untuk mengerti dan memahami wanita, apa kecenderungannya apa kebutuhannya, kemudian dengannya laki-laki bias membantu atau memberikan kesempatan agar wanita punya akses terhadap apa yang dibutuhkannya. Peran ini bisa dengan mudah diaplikasikan dalam keluarga. Keseimbangan sebuah keluarga akan mudah terbangun jika antara suami istri saling berbagi, sharing apa yang menjadi kebutuhan masing-masing, membangun komunikasi dan akhirnya menyediakan jalan agar masing-masing dapat mengembangkan dirinya. Dalam tataran masyarakat laki-laki yang telah terlebih dahulu mendominasi masyarakat, dapat mendorong regulasi-regulasi yang dapat memberikan kesempatan bagi wanita, perlindungan terhadap ancaman kekerasan (pelecehan seksual) dan memberikan akses yang lebih luas kepada wanita untuk berperan di tataran social (bisa pemerintahan, politik, kemasyarakatan, dlsb) dengan memperhatikan potensi yang ada pada wanita dan peran yang cocok dengan potensi tersebut. Tentu tidak mudah mendapatkan kesamaan persepsi tentang peran yang cocok di atas. Kalau ditentukan sepihak, alih-alih wanita akan curiga bahwa laki-laki tidak rela melepas dominasi absolutnya. Dialog bisa jadi jalan. Agama dengan penafsiran integral bisa jadi referensi.

Kedua, laki-laki dapat berperan menjadi partner kritis tentang peran wanita (yang ini agak sensitive, dan mungkin gampang menimbulkan kontroversi). Gerakan-gerakan emansipasi atau feminisme, sesuatu yang sangat positif, namun demikian tetap perlu dikritisi. Seperti saya sampaikan tadi, bahwa wanita punya kemampuan akal/intelegensia yang tidak di bawah laki-laki. Semuanya berpeluang sama untuk maju. Gerakan-gerakan feminisme telah cukup berhasil di Negara-negara maju, untuk meluaskan peran wanita di masyarakat (domain public). Sampai titik tertentu ini berjalan sangat-sangat positif. Namun seperti sebuah pemikiran….ada saja kutub ektrim. Ada kelompok fiminis yang menuntut akses dalam semua bidang.. untuk semua pilihan…termasuk terhadap rahim yang mereka punyai. Survey di inggris yang dilakukan BBC akhir-akhir ini, menyatakan bahwa sudah sangat jarang wanita yang menyusui anak-anaknya secara langsung. Ini adalah hak wanita apakah mau mengandung atau menyusui anaknya. Sekilas terdapat penghargaan HAM yang luar biasa. Namun disisi lain, pilihan atau pemikiran ini bisa menimbulkan ketidakseimbangan dalam jangka panjang (misalnya hak untuk tidak punya anak walaupun menikah, hak untuk bekerja di domain public, dan membiarkan domain keluarga terbengkalai dlsb). Dalam hal ini, wanita UK telah menggunakan rasionalitas HAM yang sangat sempurna. Namun disaat yang sama mereka menihilkan peran yang sebenarnya kodrat bagi mereka yaitu hamil, melahirkan dan menyusui. Dalam kontek inilah laki-laki seharusnya dapat berperan untuk menjadi partner kritis bagi wanita, dalam konteks keseimbangan tadi. Ini contoh kecil dari sekian banyak tuntutan emansipasi yang perlu dikritisi…

0 Comments:

Post a Comment

<< Home