Soul of Hadi

Selamat datang di Diary onlineku. Terus terang blog ini lahir tanpa konsep.. Ke depan, moga-moga bisa lebih baik. Yang jelas blog ini saya hadiahkan buat istriku tersayang Juhartati dan anak-anakku Raihan dan Nuha, dan tentu saja Kamyu-Kamyu semua :-) enjoy... help your self, bantu saya menemukan diri. thanks

Search in the Quran
Search in the Quran:
in
Download Islamic Softwares FREE | Free Code
Powered by www.SearchTruth.com

Friday, December 30, 2005

Refleksi Akhir Tahun; Mengalirlah

Mengalir bagaikan air. Tidak sedikit orang-orang besar yang menggunakan prinsip ini. Salah satunya Gde Prama. Demikianlah perjalan yang saya rasakan satu tahun ini. Masih segar dalam ingatan bagaimana air diakhir tahun lalu 2004 sedang bergolak mencari jalan menuju hilir. Keinginan untuk sedikit terbebas dari rutinitas kantoran akhirnya menemukan jalannya. Mendapatkan chevening bagaikan air menemukan anak sungai lain untuk menuju ke laut lepas.

Tidak sedikit halangan yang harus dilalui, serangkaian ujian telah memaksa air untuk beriak dan dibenturkan. Tidak sedikit tanah dan lumpur yang harus dibawa. itulah pengorbanan yang harus dibayar. No pain no gain. Masa-masa persiapan sangat melelahkan. Meninggalkan rutinitas kantor, kepindahan loker karena promosi dan transisi cuti pendidikan serta administrasi beasiswa benar-benar menguras energi dan umur :D. Saat-saat meninggalkan keluarga per September 2005 adalah dilema terberat tahun ini. Begitu sedikit opsi yang tersedia, langkah ini sempat terhenti bimbang, bagaikan air sedang terbendung sesaat di dataran ketinggian. Namun waktu dan kehendak menjadi pengingat bahwa air harus mengalir. Air yang tidak mengalir akan menjadi tempat sampah yang menjijikkan, berubah warna dan bau.

Kenyamanan yang memabukkan telah menjadi masa lalu. Pisau yang tidak terasah akan menjadi seonggok besi tua. Manusia selalu punya pilihan.. entah diperjalankan ataukah menjalankan dirinya. Terlalu muluk untuk berharap diperjalankan. Air ini belum bisa mensucikan... manalah layak diperjalankan bagaikan nabi-nabi. Karenanya harus mengalir supaya bisa suci dan mensucikan. Amin.

Kini saatnya melihat ke depan. Masih panjang perjalanan. Entah ada apa di depan. Batu.. ketinggian air terjun, yang menghancurkan atau bendungan yang menghambat namun boleh jadi menenangkan. Akan sampaikah setetes air di bahtera yang lebih luas? Bukan diploma yang jadi tujuan.. harus ada hal lebih esensi yang bisa didapat dari pengorbanan sang air. Seperti halnya air yang diperjalankan ke laut. Di lautlah purifikasi menanti. Sebelum siklus hakiki dimulai kembali.

1 Comments:

  • At 3:02 AM, January 02, 2006, Anonymous Anonymous said…

    Mas Hadi ... semoga kita bisa merasa selalu bodoh dalam menjalani hidup ... sehingga kita bisa lebih mudah untuk selalu belajar ... kita mudah untuk menerima ilmu ...bla ... bla ... sehingga pada saatnya kita bisa lebih kaya dan pintar ... kaya dalam arti ... bisa bermanfaat untuk kehidupan pribadi mas Hadi ... keluarga ... agama ... dan ... bermanfaat bagi umat ....

    Oke Mas ... ini sedikit sekelumit dari temen se Pondok Sanggar Waringin 7 Bandung dulu ....


    Damar
    Bogor

     

Post a Comment

<< Home