Soul of Hadi

Selamat datang di Diary onlineku. Terus terang blog ini lahir tanpa konsep.. Ke depan, moga-moga bisa lebih baik. Yang jelas blog ini saya hadiahkan buat istriku tersayang Juhartati dan anak-anakku Raihan dan Nuha, dan tentu saja Kamyu-Kamyu semua :-) enjoy... help your self, bantu saya menemukan diri. thanks

Search in the Quran
Search in the Quran:
in
Download Islamic Softwares FREE | Free Code
Powered by www.SearchTruth.com

Tuesday, November 22, 2005

Pribahasa Madura & Etos Kerja

Ada juga yaa.. sisi positif Madura yang akhirnya diangkat Media.. :-)

Madura sudah kenyang engan stereotip karena memang perilaku Orang-orangnya (Maduranese) yang unik, atau karena memang banyaknya interaksi suku lain dengan
orang-orang Madura Overseas (ciie gaya.. Madura Perantauan). Ya Madura memang menyebar dimana-mana... Jawa Timur mulai dari Probolinggo sampai Banyuangi boleh dibilang Madura termasuk .. cikal-bakal penduduk disana... nggak salah kalau orang-orang Probolinggo, Jember, Banyuangi dan kota2 sekitarnya bisa berbicara dua bahasa (bilingual) yaa Madura yaa Jawa. Boleh dibilang akulturasi telah terjadi di jawa timur.

Namun di daerah lain, Madura tersebar meliputi seluruh pulau jawa, sebagian sumatera... dan dulu kalimantan (sebelum kejadian Sampit), dan tentu saja pulau-pulau lainnya. Kehadirannya mudah dikenali melalui Tukang2 Sate Madura... Bahkan di Arab Saudi, Malaysia, Brunei dlsb... Madura sangat dikenal. Dua suku Indonesia yang sangat populer di Saudi adalah Bugis dan Madura. Penyebaran Maduranese di berbagai penjuru bumi, kebanyakan dimotivasi oleh para pencari2 kerja... kebanyakan dari mereka memang pendidikannya seputar pesantren dan sekolah menengah pertama (SMP) atau SMA. Dengan kepolosannya yang kental.. mereka berinteraksi dengan berbagai suku bangsa di Indonesia.. menghasilkan.. Anekdot2 tukang beca, tukang sate, tukang buah, anekdot TKI dlsb...

Masih sedikit yang menyorot bagaimana para elit atau cendekiawan Madura berkiprah. Tentunya harus adil.. tidak seperti stereotip yang selalu diambil dari sisi2 negatif... Banyak kiprah elit Madura di percaturan politik Indoensia (baik atau buruk tentu saja.. hehehe..).. katakanlah Mahfud MD, Didiek J Rachbini, R. Hartono, Wardiman Djojo Negoro, M Noer (gubernur I Jatim), Rachman Saleh SH, dlsb... Kiprah Masih banyak kiprah di dunia seni, ilmu pengetahuan yang belum terangkat. Namun di bidang humaniora dan pergerakan ada M. Wahib (jurnalist), dlsb... Dunia agama.. ada KH. Achmad Cholil, dlsb

Sisi positif Madura, dan kegigihan orang-orang Madura sangat baik diangkat oleh tulisan dari Republika di bawah. Wah.. sayangnya pelajaran Bahasa Madura ataupun pribasa yang saya alami waktu SD-SMP dulu... kurang menarik disampaikan. Yang ada adalah menghafal dan menghafal. Padahal kalau saja bisa disajikan menarik.. tentunya
akan banyak Orang Madura yang sadar.... bahwa nenek moyang mereka, mempunyai warisan pesan-pesan Etos Kerja yang luar biasa...

wassalaam
Hadi.. Orang Madura yang lagi kuliah di UK




Etos Kerja Orang Madura Tercermin dalam Setiap Peribahasanya
(republika. Selasa, 22 Nopember 2005 20:05:00)

Surabaya-RoL -- Etos kerja orang Madura yang dikenal ulet ternyata banyak tercermin dan termotivasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam peribahasa-peribahasa yang hidup secara turun temurun dari leluhurnya.

Prof Mien A Rifai dari Badan Pertimbangan Bahasa Depdiknas dalam seminar nasional tentang Bahasa Madura yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Surabaya, Selasa mengemukakan, ada sekitar 2.000 peribahasa Madura yang menunjukkan etos kerja penuturnya. "Peribahasa itu dalam Bahasa Madura istilahnya bermacam-macam, seperti `parebasa`, `saloka`, `paparegan`, `paleggiran`, `pasemmon` atau `baburugan`," katanya.

Ia menjelaskan, selain sebagai pengukuh pranata kebudayaan, peribahasa Madura ternyata mampu menyuguhkan citra pembawaan, sifat, perilaku, etos kerja serta penampilan manusia Madura. Mien mencontohkan peribahasa seperti "Oreng Madura ta` tako` mateh, tapeh tako` kalaparan` yang artinya orang Madura tidak takut mati, tapi takut kelaparan. Peribahasa itu menunjukkan kepasrahan orang Madura terhadap kematian karena hal itu merupakan hak prerogatif Allah.

"Pada sisi lain menunjukkan orang Madura justru lebih takut lapar karena kelaparan itu ditimbulkan oleh ulah dirinya sendiri yang tidak rajin dan tidak bekerja keras sehingga membuat malu. Karenanya mereka kemudian bekerja apa saja dan seberat apapun asalkan tidak melanggar agama," katanya. Dengan kata lain, orang Madura tidak akan menganggap pekerjaan sebagai sesuatu yang berat, kurang menguntungkan atau hina selama kegiatannya bukan tergolong maksiat sehingga hasil akhirnya adalah halal.

Karena itu, katanya, orang Madura tidak akan sungkan menyingsingkan lengan baju untuk mendatangi atau menerima suatu pekerjaan yang hal itu tercermin dalam peribahasa "temon nangtang lalab" (ketimun menantang untuk dibuat lalap). Namun demikian, tidak semua orang Madura "mara perreng taleh" (seperti bambu tali) yang menunjukkan keluwesan menerima pekerjaan apapun dan seberat apapun. Ada juga orang Madura yang "alos tanggung" (halus tanggung).

"Orang yang `alos tanggung` itu kelihatannya merupakan pekerja halus, tetapi ternyata tidak bisa menangani pekerjaan, baik yang halus apalagi yang kasar. Ada lagi yang diibaratkan `kerbuy koros menta esae` (kerbau kurus minta ikut membajak). Artinya orang minta tambahan tanggung jawab atau jabatan padahal tidak punya kemampuan," katanya.Etos lain yang ditampilkan orang Madura dalam "nyare kasap" (mencari penghasilan) dengan cara "kar-ngarkar nyolpe`" (mengais-ngais seperti ayam kemudian dimakan).

Peribahasa itu menunjukkan kegigihan orang Madura dalam melakukan pekerjaan yang kelihatannya sepele tapi di kemudian hari bisa meraup keuntungan besar. Selain itu, katanya, orang Madura memang dinasehati untuk tidak menghindari pekerjaan yang susah agar tidak kedatangan beban yang lebih berat lagi atau peribahasanya "ja` senggaih malarat sakone` nyopre ta` kadhatengan kasossa`an se rajah".

"Peribahasa lain menyebutkan, `oreng se nampek ka lalakon dhammang bakal nampane pakon berra` artinya orang yang menolak pekerjaan ringan akan menerima tugas berat. Atau ada lagi untuk nelayan, yakni `abantal ombak` asapo` angin` atau berbantal ombak berselimut angin," katanya. Pada kesempatan itu, Mien mengungkapkan penyesalannya karena dalam beberapa dasawarsa terakhir peribahasa Madura hampir tidak diajarkan lagi di sekolah karena pelajaran Bahasa Madura juga ditelantarkan.

"Padahal dari kajian saya menunjukkan bahwa pendidikan dari kearifan lokal itu berpengaruh besar dalam meningkatkan kepositifan dan mengurangi kenegatifan citra stereotip orang Madura," katanya. Oleh karena itu, katanya, pelajaran Bahasa Madura perlu segera dibenahi untuk mengembalikan penguasaan nilai kearifan warisan budaya yang sudah sangat tererosi oleh gejolak globalisasi. ant/pur

0 Comments:

Post a Comment

<< Home