Soul of Hadi

Selamat datang di Diary onlineku. Terus terang blog ini lahir tanpa konsep.. Ke depan, moga-moga bisa lebih baik. Yang jelas blog ini saya hadiahkan buat istriku tersayang Juhartati dan anak-anakku Raihan dan Nuha, dan tentu saja Kamyu-Kamyu semua :-) enjoy... help your self, bantu saya menemukan diri. thanks

Search in the Quran
Search in the Quran:
in
Download Islamic Softwares FREE | Free Code
Powered by www.SearchTruth.com

Sunday, July 16, 2006

Kemandirian Berpikir

Kedewasaan adalah proses menuju pencerahan dan kemampuan untuk mengendalikan diri. Salah satu aspek menuju pencerahan adalah kemandirian berpikir. Sungguh tidak mudah mendapatkan kemandirian berpikir ini. Suatu kondisi yang memungkinkan seseorang dapat menyerap seluruh informasi dari sekitarnya, dan mengolahnya menjadi input, diolah dan dijadikan berlian-berlian pemahaman baru. Berlian-berlian inilah yang nantinya menjadi amunisi untuk menghadapi godaan hawa nafsu.

Saya merasa, proses pendidikan adalah salah satu ajang latihan untuk mendapatkan kemandirian berpikir. Namun itu saja tidak cukup.. harus ada keinginan kuat dan kesabaran untuk terus berpikir dan tidak menyia-nyiakan setiap momen berpikir. Ada kekhawatiran.. terlalu banyak berpikir menyebabkan terbentuknya pribadi yang "serius". Bisa jadi, namun serius atau tidak sebenarnya adalah persepsi orang lain.

Dan persepsi orang lain itu beragam.. tidak bisa kita kontrol. Manalah mungkin kita bisa memuaskan semua pihak. Inilah yang diajarkan Luqmanul Hakiim kepada putranya kala beliau berjalan jauh dengan sang anak dan seekor keledai sebagai teman perjalanan.

Ketika sang Ayah menaiki keledai, orang-orang akan serta merta mencemooh sang ayah sebagai "tidak sayang anak". Sebaliknya kala sang anak naik keledai, dan Ayah berjalan, orang-orang akan menganggap "anak tidak berbakti". Pada saat ayah dan anak berjalan, orang-orang menganggapnya "tidak efisien". Kala anak dan ayah mengendarai sang keledai bersama-sama... mereka bilang, "tidak berperikebinatangan". Kala sang Ayah dan Anak memutuskan menggendong sang keledai... , serta merta orang lain menganggap mereka "orang gila". Lalu dimanakah persepsi itu harus diletakkan?

Di dalam hati. Nikmatilah setiap proses yang ada dalam diri kita. Berdamailah dengan diri kita. Hargai karakter dan proses enlightment yang sedang terjadi. Sadari kekurangan dan kebodohan kita. Dan nikmatilah proses berpikir untuk memperbaiki semua kekurangan yang ada.

Berpikir tidak harus dilakukan dengan serius, pasang muka berkerut dan melalui hari-hari dengan murung. Bukankah kebiasaan berpikir bisa kita lakukan sambil tersenyum. Bahkan dalam tidur "ayam" sekalipun kita bisa berpikir... sungguh asyik. Berpikir dalam lamunan, atau berpikir dalam kerumunan diskusi... aaah nikmati saja. Hitung-hitung kita mensyukuri karunia otak yang diberikan oleh-Nya, sebelum pikun datang.... :-) Yang belum berhasil dilakukan.. adalah berpikir dalam gelak tawa dan hingar bingar....hahaha... Mungkin hanya maqam sufi dan indigo yang bisa melakukan itu.

Aaah.. jadi ingat. Masa penyelesaian disertasi tinggal 1 bulan lagi. Disini proses berpikir dipaksakan.. dalam tekanan. Ah mana mungkin dinikmati. Mudah-mudahan Allah berikan ketenangan dan kesabaran. Saya yakin dibalik tekanan ini, di ujung sana akan ada kegembiraan. Gembira bisa menyelesaikan sebuah proses berpikir yang menghasilkan. Disertasi dan kepuasan akademik.

Guildford, 16 July 2006

Thursday, June 22, 2006

Tragedi Ujian Nasional

Sebuah kisah baru muncul ditengah-tengah bencana Gempa Jogja, banjir bandang Sinjai.
Bencana ini dirasakan oleh ribuan anak-anak SMA yang menjadi korban sistem ujian nasional yang hanya melihat dari tiga mata pelajaran saja; Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. Sampai kapankah try and errror sistem pendidikan nasional Indonesia akan berakhir? Berapa banyak lagikah korban-korban system baru akan berjatuhan.

Hari ini siswa-siswa -- yang sebenarnya berprestasi namun jatuh di satu mata ujian-- melakukan demo dan mendatangi KOMNAS HAM. Di hari yang lain, ada siswa yang mencoba membakar sekolahnya, setelah dimarahi sang kakak karena ketidaklulusannya. Di saat yang lain sudah ada pelajar yang rela mengakhiri hidupnya karena tidak lulus ujian negara. Meskipun ada masalah mengenai rentan-nya psikologis adik-adik kita dalam menerima hasil Ujian Negara, artikel ini hanya mengangkat aspek Ujian Negara itu sendiri.

Pemerintah mungkin bermaksud mengembangkan standard mutu kelulusan siswa SMA dengan adanya ujian negara di atas. Namun mengapa yang menjadi objek penderita adalah langsung siswa-siswa? Apakah serentetan ujian yang dilakukan di internal sekolah, maupun ujian-ujian masuk perguruan tinggi belum cukup untuk menyaring mereka? Apakah dengan lulus ujian negara, mereka serta merta akan lulus ujian masuk perguruan tinggi? Rasanya kok tidak yaa...

Apakah akreditasi sekolah belum cukup? Atau apakah akreditasi yang ada selama ini terbukti belum efektif men-standardisasikan mutu lulusan SMA? Bisa jadi iya. Karena terbukti ada saja sekolah yang satupun siswanya tidak lulus UN. Atau bisa jadi proses akreditasinya yang nggak efektif. Saya kok melihatnya seperti itu. Ditambah lagi, katanya sistem berbasis kompetensi yang bagus itu, belum dapat dijalankan oleh sekolah-sekolah. Banyak guru-guru yang belum bener-bener menjiwai sistem ini, mereka mengajar dengan frame-work lama mereka. Yaah itulah tantangannya.

Anyway apapun sistemnya, kalau siswa yang menjadi korban sangat banyak, something wrong with the system. Daripada pemerintah menentukan kelulusan siswa secara terpusat seperti ini mengapa nggak dicari cara lain? Bagus saja jika pemerintah membuat semacam award terpusat, untuk menghargai anak-anak yang bisa mencapai nilai UN tertinggi.. katakanlah A Level, Upper level, merit atau apapun itu. Namun untuk menentukan kelulusan seorang anak, mengapa tidak menyerahkan kepada sekolah masing-masing? Bukankah mereka yang lebih tahu tentang kemampuan siswa? Tidak mungkin memaksakan semua anak bagus di matematika, sementara mengabaikan kemampuannya di bidang olahraga, seni atau organisasi atau pelajaran-pelajaran lainnya. Dimana letak konsep pendidikan berbasis kompetensi di sini kalau yang menentukan kelulusan hanya matematika dan bahasa....?!

Apakah anak Indonesia yang kompeten adalah yang bagus Bahasa Indonesia-nya, Bahasa Inggris-nya, dan matematikanya saja ?? Kalau memang seperti itu.. wah akan mati semua kompetensi non-exact atau non-bahasa yaa.. :-)

Benar kata salah seorang siswa, kalau emang 3 tahun masa belajar hanya ditentukan oleh 3 mata pelajaran selama 2 jam ujian. Lebih baik mereka berbondong-bondong masuk bimbingan belajar dan melupakan proses pendidikan yang sebenarnya. Lupakan mata pelajaran yang lain yang banyak itu. Selamat datang mekanisasi pendidikan Indonesia.

Duh-duuh.. mudah-mudahan system dengan anomali besar ini segera berakhir. Bakalan kerja keras nih dan bakalan deg-degan juga kalau anak-anak saya harus merasakan system amburadul ini.

Baca juga: http://www.kompas.com/metro/news/0606/21/082032.htm